Praktikum pagi pertama kali
Hari
ini aku benar benar bingung. Di semester tiga kali ini aku mengambil 22 sks
dengan 4 praktikum. Walaupun sks yang kuambil kali ini lebih sedikit daripada
semester dua kemarin. Namun, dengan empat praktikum yang kuambil, beban di
semester tiga ini rasanya jauh berlipat – lipat dari semester sebelumnya.
Sebenarnya bukan menjadi masalah berarti karena mengambil 4 praktikum, tapi
sepertinya aku ketakutan di dua praktikum yang punya jadwal jam 7.30.
Hari
ini pula praktikum itu diawali dengan toleransi batas maksimal 15 menit
keterlambatan. Hal ini akan terus berlangung pada hari rabu dan jumat mendatang
hingga aku menyelesaikan semester tiga. Untuk teman – temanku, jam seperti itu
sebenarnya bukan suatu waktu yang terlalu berat untuk dijalani. Karena memang
pada waktu tersebut sepertinya jam biologis makhluk hidup manapun yang sudah
terlelap malamnya pasti lebih dari cukup. Entah kenapa dalam kasus ini, tubuhku
seperti tidak mencirikan makhluk hidup dari jenis spesies yang sekarang
kuyakini – manusia.
Sudah
ratusan kali aku mencoba untuk bangun pagi. Mulai dari menyalakan alarm keras –
keras dengan frekuensi 10 menit sekali, tidur diatas alas yang tipis (bahkan kasurku
sengaja tidak kuganti agar tetap terjaga tipisnya), hingga tidak tidur pada
malamnya. Dan untuk hari ini aku mencoba cara yang terakhir.
Semua
sudah kusiapkan: dari membeli makan untuk bekal begadang dan secangkir besar
kopi dengan takaran 4 sendok makan kopi. Sayangnya, ketika pukul 22.30
menjelang, rasa kantuk memang tidak menyerangku, sepertinya secangkir besar
kopi inilah yang menanggulangiku untuk terlelap. Tapi yang terjadi malah aku
dilanda mual yang hebat, bahkan untuk mencium bau kopi yang tadi belum habis
kuminum sudah tidak sanggup. Kuakui, kopi tadi sudah hampir habis kuminum dalam
dua jam, dan kopi tersebut sudah kuminum ketika aku masih membaca koran dan
bersantai. Alih – alih terjaga saat belajar, aku malah pusing karena kopi tadi.
Maka,
karena tak sanggup lagi untuk melanjutkan membaca dan belajar. Kuputuskan saja
untuk beristirahat, karena jam juga menunjukkan pukul 23.00 dengan hanya dua
pilihan yang bisa kulakukan, tetap terjaga atau melanjutkan tidur karena jam
sudah menunjukkan waktu maksimal untuk tidur agar esoknya bisa bangun paling
pagi maksimal pukul 07.00.
Dibekali
dengan pikiran seperti itu dan kopi yang sudah menjejali otak segelas cangkir
besar, pusingku lebih parah dan kurasa stress menjadi dalang besar dalam
kasusku ini. Pada akhirnya, dengan bantuan tidur di kamar tetangga aku tetap
bisa bangun tepat waktu. Namun, apakah besok stress ini bisa terulang lagi? Aku
takut, semoga ini tak terjadi lagi.
Nb: Oh ya, yang tau obat stress kasih tau yah!
Comments
Post a Comment