Fokus saya
saya banyak makan. Untuk membuka hari selalu saya awali dengan bayangan akan makanan, begitupun saat menutupnya. Untuk makan sendiri saya tak pernah pilih - pilih. Saya tidak masalah dengan makanan porsi besar dan tentunya juga tetap doyan dengan makanan berporsi kecil.
Saya banyak sekali makan. Minimal sehari saya mengharuskan diri makan minimal dua kali. Tidak perlu bersusah payah untuk memasang reminder atau minta tolong orang lain untuk mengingatkan saya akan makan. Mungkin saya bisa lupa, tapi lidah saya selalu punya otak sendiri untuk mengingatkan jadwal makan saya.
Ide awalnya saya makan adalah untuk memberi energi ke kaki saya , tangan saya, telinga saya, mata saya untuk bekerja di paginya. Tapi entah kenapa tubuh saya justru semakin letih ketika seusai makan dan seakan makanan yang saya makan hanya terkunyah dan tak pernah keluar sama sekali dari tubuh saya apapun bentuknya. Makanya tubuh saya saat ini tumbuh tetap saat saya SMP tapi dengan perut melengkung yang selalu dengan susah payah saya tutupi.
Saya selalu heran dengan sikap morfologi tubuh saya. Saya curiga, jangan - jangan makanan saya ketika tuntas kukunyah tidak pernah turun ke bawah. Makanan yang saya cerna sepertinya justru malah naik ke atas, ke pikiran saya. Mungkin ini yang membuat saya cepat lelah. Sudah capai dibuat berpikir pelajaran, jadwal yang tidak rapi, dan omongan orang, ternyata masih harus mencerna makanan saya.
Mungkin saya bisa setambun ini karena usus saya yang tidak terpakai ngambek akhirnya makanan selanjutnya yang turun ke bawah disandera olehnya. Oh ya berbicara tentang perut, usus dan otak serta hubungannya, ternyata berhubungan dengan sejarah peradaban kita dan perbedaan produk budaya manusia sekarang dengan leluhurnya.
ternyata zaman dahulu homo sapiens atau yang lebih tua darinya punya volume otak yang lebih kecil karena kemampuan mengolah makanan yang tidak semodern sekarang. Zaman dahulu makanan tidak diolah dan berserat sangat tinggi seperti dedaunan. Dengan memakan dedaunan membuat leluhur kita butuh energi yang ekstra bagi usus untuk mencernanya. Sehingga menyebabkan pasokan energi bagi otak berkurang dan turut memengaruhi bentuk dan volumenya. Sangat berbeda dengan manusia modern yang punya variasi menu makanan yang bergizi lengkap.
Dengan memilihi sumber karbohidrat yang mudah dicerna serta zat kimia pada makanan yang kini kita bisa tahu fungsi dan manfaatnya. Serta pengetahuan yang terus berkembang tentang pertanian, perikanan ataupun peternakan. Membuat manusia kian mudah mengakses sumber - sumber yang berguna bagi otak, protein.
Namun, selalu ada hal laten yang berbahaya dari kata mudah. Kemudahan memang memberi kita kemungkinan yang lebih banyak untuk meraih sesuatu yang menguntungkan, tapi kenyamanan tersebut membuat kita abai. Padahal katanya saya generasi yang harusnya paling pintar. Eh, bukan. Saya adalah spesies paling pintar. Tapi ternyata anugrah warisan evolusi leluhur saya tidak pernah membuat saya bersyukur sehingga saya bisa abai merawat tubuh saya.
Saya banyak sekali makan. Minimal sehari saya mengharuskan diri makan minimal dua kali. Tidak perlu bersusah payah untuk memasang reminder atau minta tolong orang lain untuk mengingatkan saya akan makan. Mungkin saya bisa lupa, tapi lidah saya selalu punya otak sendiri untuk mengingatkan jadwal makan saya.
Ide awalnya saya makan adalah untuk memberi energi ke kaki saya , tangan saya, telinga saya, mata saya untuk bekerja di paginya. Tapi entah kenapa tubuh saya justru semakin letih ketika seusai makan dan seakan makanan yang saya makan hanya terkunyah dan tak pernah keluar sama sekali dari tubuh saya apapun bentuknya. Makanya tubuh saya saat ini tumbuh tetap saat saya SMP tapi dengan perut melengkung yang selalu dengan susah payah saya tutupi.
Saya selalu heran dengan sikap morfologi tubuh saya. Saya curiga, jangan - jangan makanan saya ketika tuntas kukunyah tidak pernah turun ke bawah. Makanan yang saya cerna sepertinya justru malah naik ke atas, ke pikiran saya. Mungkin ini yang membuat saya cepat lelah. Sudah capai dibuat berpikir pelajaran, jadwal yang tidak rapi, dan omongan orang, ternyata masih harus mencerna makanan saya.
Mungkin saya bisa setambun ini karena usus saya yang tidak terpakai ngambek akhirnya makanan selanjutnya yang turun ke bawah disandera olehnya. Oh ya berbicara tentang perut, usus dan otak serta hubungannya, ternyata berhubungan dengan sejarah peradaban kita dan perbedaan produk budaya manusia sekarang dengan leluhurnya.
ternyata zaman dahulu homo sapiens atau yang lebih tua darinya punya volume otak yang lebih kecil karena kemampuan mengolah makanan yang tidak semodern sekarang. Zaman dahulu makanan tidak diolah dan berserat sangat tinggi seperti dedaunan. Dengan memakan dedaunan membuat leluhur kita butuh energi yang ekstra bagi usus untuk mencernanya. Sehingga menyebabkan pasokan energi bagi otak berkurang dan turut memengaruhi bentuk dan volumenya. Sangat berbeda dengan manusia modern yang punya variasi menu makanan yang bergizi lengkap.
Dengan memilihi sumber karbohidrat yang mudah dicerna serta zat kimia pada makanan yang kini kita bisa tahu fungsi dan manfaatnya. Serta pengetahuan yang terus berkembang tentang pertanian, perikanan ataupun peternakan. Membuat manusia kian mudah mengakses sumber - sumber yang berguna bagi otak, protein.
Namun, selalu ada hal laten yang berbahaya dari kata mudah. Kemudahan memang memberi kita kemungkinan yang lebih banyak untuk meraih sesuatu yang menguntungkan, tapi kenyamanan tersebut membuat kita abai. Padahal katanya saya generasi yang harusnya paling pintar. Eh, bukan. Saya adalah spesies paling pintar. Tapi ternyata anugrah warisan evolusi leluhur saya tidak pernah membuat saya bersyukur sehingga saya bisa abai merawat tubuh saya.
Comments
Post a Comment