Bertemu Eka Kurniawan
Kemarin hari Selasa tanggal 10 April 2018 adalah hari paling menyenangkan, paling tidak untuk saya sendiri. Setelah gagal bersua di kafe basa - basi beberapa minggu yang lalu ternyata waktu yang terus berjalan mampu menuntun saya dan mas eka untuk bertemu walau di lain tempat. Tidak sulit bagi saya sebenarnya untuk meluangkan waktu menghadiri diskusi buku, atau menghadiri forum - forum dimana ada narasumber yang telah moncer di karir penulisannya, apalagi jika ternyata narasumbernya itu Eka Kurniawan. Namun, dulu saya benar - benar tidak bisa menggadaikan reputasi saya dan merendahkan kemampuan pundak saya sendiri yang telah sanggup menahan kepercayaan yang sangat banyak dari teman - teman saya dengan hanya sekedar rehat sejam dua jam untuk menemuinya. Apalagi saya tahu dari yang sudah - sudah, saya pasti mengalokasikan banyak waktu di akhir untuk berfoto dengan narasumber dan meminta tanda tangan tiap ada narasumber terkenal yang sudah tuntas memuaskan hadirin - hadirat sebelumnya.
Saya punya banyak buku Eka Kurniawan, ada : Lelaki Harimau, Seperti Dendam, Rindu Harus Dibayar Tuntas, Corat - Coret di Toilet, dan O. Keempat - empatnya adalah buku yang secara fisik saya punya dan sisanya mohon maaf mas saya baru membacanya via ebook. Dari banyak buku itulah sebenarnya saya masih jauh jika disebut penggemar besar sastrawan agung Eka Kurniawan jika tidak disebut sastrawan sempurna. Jangankan menggemari personalitinya, kebiasaan membaca saya saja hanya berumur sama jaraknya dengan musim rambutan ke musim duren. Walaupun hobi saya masih baru, tapi di rentang waktu seperti itu saya telah mampu membaca salah lima dari karya Eka Kurniawan. Tidak tergolong luar biasa, tapi sepertinya patut diapresiasi untuk pembaca awal.
Acara yang saya ikuti adalah sajian dari Forum Umar Kayam yang digagas oleh Pusat Kebudayaan Koesnadi Hardjasoemantri. Dan dengan mengundang Eka Kurniawan maka ini sudah kali kedua Forum Umar Kayam telah membuka pintu gerbang PKKH lebar- lebar kepada narasumber hebat dengan hadirin yang senantiasa tak pernah puas akan kebutuhan literasinya. Walaupun didekorasi dengan sangat sederhana dengan hanya berbatasan meja dengan sang narasumber, pengunjung sanggup dibuat tidak mampu beranjak dari tempat duduknya. Bahkan saya sendiri sanggup menahan buang air kecil karena sangat menikmati sajian dari Mas Eka dan atmosfer yang selalu direspon dengan bermacam getaran apalah yang saya sendiri tidak tahu oleh panca indra saya.
Sejak dari awal, forum yang mengusung tema berbagi proses kreatif yang diamini oleh Mas Eka dalam rutinitasnya ketika menulis ini benar - benar sangat senyap. Seolah murid - murid SD yang mendengarkan penjelasan dari wali kelasnya, hanya saja ini adalah kelas yang besar dengan sajian kopi, teh dan makanan ringan yang boleh kita mengambilnya di bagian belakang kursi hadirin. Acara diawali dengan presentasi yang dibawakan oleh Mas Eka sendiri dan dilanjutkan oleh pertanyaan yang dibagi menjadi dua termin. Tak lupa juga ada Bung Makhfud Ikhwan yang memantik acara ini dengan sangat sukses. Saya seolah tidak terima, Bung Ikhwan bukan hanya memantik lilin di kepala hadirin, bahkan juga menyiraminya dengan bensin.
Bung Ikhwan telah bekerja sangat baik, tapi sepertinya memang saya yang tidak mampu untuk memberi pertanyaan kepada Mas Eka tentang apa yang saya tidak tahu. Saya juga tidak berani menanyakan kepada Mas Eka tentang apa yang telah saya tahu, seolah - olah dengan angkuhnya saya meyakini bahwa apa yang telah saya ketahui itu adalah benar. Namun begitu dari kedua termin dengan total jika dijumlah adalah enam pertanyaan setidaknya saya telah menuliskan catatan kecil di HP saya tentang pertanyaan yang diajukan audience dan respon jawabannya.
Dari semua pertanyan yang semuanya bagus - bagus dan dapat saya katakan sempurna karena sanggup mengutarakannya di depan Mas Eka dengan didengarkan banyak hadirin. Yang saya perhatikan dengan lebih adalah pertanyaan tentang sejarah dan isinya yang berganti - ganti mengikuti periode kekusaan penguasa dan bagaimana cara menuturkan yang paling benar perihal catatan di masa lalu itu sendiri kepada yang awam. Mas Eka menjawab bahwa sesungguhnya perihal tersebut sudah jelas akan dicatat oleh pihak yang paling dominan, dimana memang posisi itu adalah penguasa dengan pemerintahannya yang didalamnya mengangkut instrumen birokrasi dan aparatur. Seperti adagium yang dinyatakan oleh Winston Churchill yang mengamini jika sifat alami sejarah dan perjalanannya adalah ditulis oleh sang pemenang. Serta tidak lupa Mas Eka menanggapi cara untuk menjelaskan sesuatu yang "benar" kepada yang awam atau mungkin khalayak adalah dengan cara meyakini bahwa apa yang kita sebut "benar" itu memang benar dan sesuai dulu. Caranya adalah dengan verifikasi terhadap masa lalu, bisa dengan menemui narasumber atau menemukan peninggalan yang selaras dan mampu bertanggung jawab tentang kebenaran kisah itu.
Saya kira jawaban itu akan berakhir dan Mas Eka akan melanjutkan dengan menjawab pertanyaan dari penanya lain. Bagi saya jawaban itu sudah sangat memuaskan. Namun Mas Eka menambahkan dengan menyatakan bahwa yang terpenting adalah memberikan sudut pandang yang baru atau berbeda dengan yang sudah dimiliki orang lah yang terpenting. Bukan dengan wajah marah dan berteriak sembari menyuakan kebenaran versi yang dipunyainya sendiri, biarpun kebenaran itu telah dilakukan verifikasi dan terbukti benar. Dan apa yang seharusnya dilakukan bila hal itu tidak mampu untuk menghasilkan verifikasi yang sesuai dengan metodologi yang benar? Maka hal itu di buat koma saja, jangan dibuat titik. Jadi kita semua tidak perlu membuang tenaga yang tidak perlu untuk mengisi kekosongan pernyataan itu dengan ngotot - ngototan karena meyakini kebenaran versinya masing - masing.
Saya punya banyak buku Eka Kurniawan, ada : Lelaki Harimau, Seperti Dendam, Rindu Harus Dibayar Tuntas, Corat - Coret di Toilet, dan O. Keempat - empatnya adalah buku yang secara fisik saya punya dan sisanya mohon maaf mas saya baru membacanya via ebook. Dari banyak buku itulah sebenarnya saya masih jauh jika disebut penggemar besar sastrawan agung Eka Kurniawan jika tidak disebut sastrawan sempurna. Jangankan menggemari personalitinya, kebiasaan membaca saya saja hanya berumur sama jaraknya dengan musim rambutan ke musim duren. Walaupun hobi saya masih baru, tapi di rentang waktu seperti itu saya telah mampu membaca salah lima dari karya Eka Kurniawan. Tidak tergolong luar biasa, tapi sepertinya patut diapresiasi untuk pembaca awal.
Acara yang saya ikuti adalah sajian dari Forum Umar Kayam yang digagas oleh Pusat Kebudayaan Koesnadi Hardjasoemantri. Dan dengan mengundang Eka Kurniawan maka ini sudah kali kedua Forum Umar Kayam telah membuka pintu gerbang PKKH lebar- lebar kepada narasumber hebat dengan hadirin yang senantiasa tak pernah puas akan kebutuhan literasinya. Walaupun didekorasi dengan sangat sederhana dengan hanya berbatasan meja dengan sang narasumber, pengunjung sanggup dibuat tidak mampu beranjak dari tempat duduknya. Bahkan saya sendiri sanggup menahan buang air kecil karena sangat menikmati sajian dari Mas Eka dan atmosfer yang selalu direspon dengan bermacam getaran apalah yang saya sendiri tidak tahu oleh panca indra saya.
Sejak dari awal, forum yang mengusung tema berbagi proses kreatif yang diamini oleh Mas Eka dalam rutinitasnya ketika menulis ini benar - benar sangat senyap. Seolah murid - murid SD yang mendengarkan penjelasan dari wali kelasnya, hanya saja ini adalah kelas yang besar dengan sajian kopi, teh dan makanan ringan yang boleh kita mengambilnya di bagian belakang kursi hadirin. Acara diawali dengan presentasi yang dibawakan oleh Mas Eka sendiri dan dilanjutkan oleh pertanyaan yang dibagi menjadi dua termin. Tak lupa juga ada Bung Makhfud Ikhwan yang memantik acara ini dengan sangat sukses. Saya seolah tidak terima, Bung Ikhwan bukan hanya memantik lilin di kepala hadirin, bahkan juga menyiraminya dengan bensin.
Bung Ikhwan telah bekerja sangat baik, tapi sepertinya memang saya yang tidak mampu untuk memberi pertanyaan kepada Mas Eka tentang apa yang saya tidak tahu. Saya juga tidak berani menanyakan kepada Mas Eka tentang apa yang telah saya tahu, seolah - olah dengan angkuhnya saya meyakini bahwa apa yang telah saya ketahui itu adalah benar. Namun begitu dari kedua termin dengan total jika dijumlah adalah enam pertanyaan setidaknya saya telah menuliskan catatan kecil di HP saya tentang pertanyaan yang diajukan audience dan respon jawabannya.
Dari semua pertanyan yang semuanya bagus - bagus dan dapat saya katakan sempurna karena sanggup mengutarakannya di depan Mas Eka dengan didengarkan banyak hadirin. Yang saya perhatikan dengan lebih adalah pertanyaan tentang sejarah dan isinya yang berganti - ganti mengikuti periode kekusaan penguasa dan bagaimana cara menuturkan yang paling benar perihal catatan di masa lalu itu sendiri kepada yang awam. Mas Eka menjawab bahwa sesungguhnya perihal tersebut sudah jelas akan dicatat oleh pihak yang paling dominan, dimana memang posisi itu adalah penguasa dengan pemerintahannya yang didalamnya mengangkut instrumen birokrasi dan aparatur. Seperti adagium yang dinyatakan oleh Winston Churchill yang mengamini jika sifat alami sejarah dan perjalanannya adalah ditulis oleh sang pemenang. Serta tidak lupa Mas Eka menanggapi cara untuk menjelaskan sesuatu yang "benar" kepada yang awam atau mungkin khalayak adalah dengan cara meyakini bahwa apa yang kita sebut "benar" itu memang benar dan sesuai dulu. Caranya adalah dengan verifikasi terhadap masa lalu, bisa dengan menemui narasumber atau menemukan peninggalan yang selaras dan mampu bertanggung jawab tentang kebenaran kisah itu.
Saya kira jawaban itu akan berakhir dan Mas Eka akan melanjutkan dengan menjawab pertanyaan dari penanya lain. Bagi saya jawaban itu sudah sangat memuaskan. Namun Mas Eka menambahkan dengan menyatakan bahwa yang terpenting adalah memberikan sudut pandang yang baru atau berbeda dengan yang sudah dimiliki orang lah yang terpenting. Bukan dengan wajah marah dan berteriak sembari menyuakan kebenaran versi yang dipunyainya sendiri, biarpun kebenaran itu telah dilakukan verifikasi dan terbukti benar. Dan apa yang seharusnya dilakukan bila hal itu tidak mampu untuk menghasilkan verifikasi yang sesuai dengan metodologi yang benar? Maka hal itu di buat koma saja, jangan dibuat titik. Jadi kita semua tidak perlu membuang tenaga yang tidak perlu untuk mengisi kekosongan pernyataan itu dengan ngotot - ngototan karena meyakini kebenaran versinya masing - masing.
Comments
Post a Comment