Nulis Lagi
It’s brrr celcius here, pagi tadi aku terbangun dalam gerimis yang melanda seluruh kota. Iya, memang
kotaku sering hujan. Tapi, aku rasa tidak pernah ada hujan semenggigil ini , juga sepertinya pagi ini tak pernah sepekat sebelumnya.
Walaupun begitu, seperti biasa aku awali pagi dengan ibadah duduk-duduk depan kamar sambil mengkalibrasi tubuh agar siap mandi.
Walaupun begitu, seperti biasa aku awali pagi dengan ibadah duduk-duduk depan kamar sambil mengkalibrasi tubuh agar siap mandi.
Kebiasaan aku tetap sama, aku tak pernah membenci hujan, juga aku tak takut dengan dinginnya
dan basahnya air. Pasti ada penyebab hari ini suasana hujann tidak seperti biasa, aku yakin hujan
hari ini diciptakan Tuhan agar hamba-Nya memahami tentang kehilangan. Bukannya tanpa alasan, aku yang
garing dan menyebalkan, digenangi kenangan, aku yang haus dan kesepian,
dibasahi rindu..
Ah, serandainya aku tahu hujan ini adalah tanda kepergianmu, mungkin aku tak lagi menunggu,
tak kan mau congkak tanpa ada praduga kapan kau akan pergi. Sayangnya, pagi ini
berbeda,ketiadaanmu nyata, pagi ini tak akan bisa lebih sakit lagi. Akhirnya, sesudah mandi dan rapi, segera kuambil sepatu dan kuikat
dengan kencang, kucoba berdiri tegak dari tempatku, bersiap pergi, dan mencoba
meninggalkanmu.

Bukan
bukaaan, aku hanya pergi kuliah, kutarik motorku dari garasi dan bersiap untuk
segera pergi. Hujan ini sudah cukup reda , aku siap untuk berangkat, motorku juga siap menemani tuannya agar tidak sampai kebasahan ketika di tempat
tujuan. Dan akhirnya aku berangkat ke kampus.
Ngomong - ngomong kalian pasti tau, Sebenarnya hari ini aku menulis untuk melupakan. Sebab itu, tulisanku hari
ini adalah tentangmu. Tapi tak usah khawatir, kamu tak perlu takut untuk tahu
siapa yang meninggalkanmu. I will write
everything up to ease the pain, but I know you won’t read it.
Dan,
hari ini berakhir dengan pelangi yang tak kunjung tiba, kunikmati saja hujan
ini sendiri dan kuhabiskan waktuku
dengan menghitung hari sejak kau begini. Andai kau tau, memang hujan diluar tak dapat aku
menghentikannya. Namun, untuk hujanmu yang dibawah bantal, aku selalu punya
jawabnya, percayalah.
Comments
Post a Comment