Bagaimana dan Jika

Bagaimana dan Jika adalah dua kata berbeda dan tercipta untuk berdiri sendiri. Namun, pasangkan ia secara berdampingan, maka mereka akan punya kekuatan untuk menghantuimu selama sisa hidupmu, “Bagaimana jika ini , bagaimana jika itu, bagaimana jika…”.
Ya, saya juga punya masalah, semua makhluk yang hidup punya masalah. Walaupun, hanya setipis suwir- suwir ayam di bubur, tetep aja bisa jadi masalah ketika doi nylempit di gigi, gigi geraham belakang apalagi.

Ya,ini sama seperi ketika saya pertama kali di Jogja 2 bulan yang lalu. Saya tak pernah membayangkan masalah apa yang akan menghampiri atau kesenangan apa yang bisa dilakukan untuk menyeimbangkan berputarnya roda kehidupan.
                Saya mau bercerita sedikit tentang kesan pertama masuk ke gerbang kampus kerakyatan dan menuntut ilmu disana. Emang dasar sikap manusia yang selalu naif dunyo wal akhirat, saya masih berharap punya teman yang sevisi dengan saya yang menyukai mendaki gunung, menerabas hutan, mengarungi laut, hingga menjelajahi sudut-sudut terbawah dari kerak bumi. Ternyata tidak, teman teman saya adalah sekelompok penggiat dan aktivis dalam membaca buku eksak serta pemimpi dipromosikan menjadi pegawai di perusahaan mentereng luar negeri atau perusahaan manufaktur dan minyak dunia kelak.
                Dan juga saya kira saya bisa membaur di tengah tengah pluralnya kebudayaan dan dominasi orang minang dalam angkatan saya. Saya mematok harga yang tinggi untuk bisa berbaur dengan saya yaitu yang sama berbahasa jawa seperti saya, atau paling tidak mempunai satu frekuensi selera humor yang sama dengan saya. Tapi lagi- lagi tidak, saya terjebak dalam penilaian subjektif yang akhirnya saya akui bahwa saya turut merendahkan portofolio panjang mereka yang akhirnya dapat membawa mereka menjadi teman sejawat saya di UGM.
                Oh ya, pengen tau saya sekarang? Saya sekarang sedang sibuk menebus dosa dan membuka batas yang kuciptakan sendiri agar bisa  mengejar mereka kembali. Setidaknya hal ini sudah dibilang cukup untuk menambahi daftar masalah dalam buku hidup saya. Ya, sama seperti banyak masalah yang lain, percayalah, masalah saya dan mungkin kelak jika kalian punya masalah, tidaklah lebih tinggi dari kuasa Tuhan yang kalian punya sekarang. Banyak orang yang hilang kekagumannya sama Tuhan. Jadi fokus kagum sama yang lain. Kagum sama masalahnya. Kagum sama orang-orang sekitarnya..

Comments

Popular posts from this blog

Bertemu Eka Kurniawan

Fokus saya

Serasi itu ngaco